Surat Lamaran Kerja ‘Anak Medan’ Viral, Begini Analisis Gaya Bahasanya

Ilustrasi surat lamaran kerja (Foto: dok. Thinkstock)

Medan – 

‘Kutengok semalam di internet, kubaca udah bukak pulak lamaran di kantor Bapak’, demikian penggalan isi surat lamaran kerja ‘anak Medan’ yang viral di media sosial. Gaya bahasa atau penggunaan kata-kata dalam surat itu kemudian ramai dibahas.

Ada yang menganggap gaya bahasa tersebut adalah khas ‘anak Medan‘ yang frontal atau blak-blakan. Lalu sebenarnya bagaimana gaya bahasa ‘anak Medan’ itu sendiri?

Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Medan Area (UMA) Ara Auza menjelaskan soal gaya bahasa atau berkomunikasi seperti yang digunakan dalam surat tersebut. Dia menyebut bahasa ‘anak Medan’ memang unik dan perlu penelitian lebih jauh soal gaya khas bicara orang-orang di Medan.

“‘Bahasa Medan’ memang unik dan menarik perhatian. Kekhasan bahasa Medan ini memang perlu ditelisik lebih jauh. Banyak tokoh yang menggunakan ‘bahasa Medan’ mendapat positioning yang baik di media massa, bahkan jauh sebelum adanya media sosial,” kata Ara, Senin (7/9/2020).

Ara menyebut cara bicara hingga pemilihan kata-kata khas orang Medan itu sering digunakan oleh orang-orang untuk menarik perhatian, khususnya di industri hiburan. Dia mencontohkan soal penggunaan dialek khas Medan di film Warkop DKI hingga gaya khas Poltak Raja Minyak dari Medan yang populer pada awal 2000-an.

“Indro ‘Warkop’ dalam film Warkop sering menggunakan dialek Medan, Poltak Raja Minyak dari Medan di awal tahun 2000-an. Kemudian, beranjak ke era medsos kita mengenal Mak Beti, Mak Gardam, Gita Bebita, menggunakan dialek Medan dan viral,” ujar Ara.

Dia menilai gaya bahasa khas anak Medan ini menarik perhatian karena terdengar atau terlihat frontal. Dalam komunikasi sehari-hari, kata Ara, gaya bahasa anak Medan ini bukan masalah. Namun, jika gaya bahasa seperti itu dipakai untuk hal formal, seperti surat lamaran kerja, bakal menjadi masalah.

“Yang didapati dalam surat lamaran yang sedang viral merupakan bahasa percakapan yang dituliskan. Bentuknya adalah bahasa lisan yang dibuat dalam bentuk tulisan, jadi terlihat baru bagi sebagian orang. Padahal dialek Medan tersebut sering diucapkan melalui lisan atau oral. Mungkin saja baru kali ini ada yang menuliskan bahasa Medan secara tulisan, meme, atau bentuk lainnya dan dianggap viral,” ujar Ara.

“Kalau memang benar surat lamaran itu disampaikan kepada perusahaan, secara struktur kata dan kalimat pasti salah. Surat resmi seharusnya mengikuti struktur kata atau kalimat yang sudah ada seperti S-P-O-K dan/atau dalam bentuk pasif. Kalau frontal secara lisan memang nggak ada masalah. Menjadi masalah karena dalam bentuk tulisan. Kaidah penulisan kan harus merujuk pada struktur yang ada,” sebut Ara.

Terlepas dari viralnya surat lamaran kerja ‘anak Medan‘ tersebut, Ara menilai gaya bahasa orang-orang Medan merupakan budaya yang harus diteliti dan dilestarikan. Dia berharap Pemko Medan menjadikan bahasa sebagai salah satu budaya yang harus dilestarikan.

“Kalau tidak salah, sudah ada yang inisiasi pembuatan kamus bahasa Medan. Bahasa merupakan bagian dari budaya. Kalau Pemerintah Kota Medan merasa bahwa bahasa Medan merupakan aset dan perlu dilestarikan, sah-sah saja membuat rumusan untuk mendukung bahasa Medan diakui di level nasional. Akan tetapi memang masih jauh kayaknya sebagai prioritas. Bahasa dan budaya secara umum belum masuk program prioritas di Kota Medan, beda dengan daerah-daerah seperti Yogya, Bandung, Solo, Padang, dan Banda Aceh,” ucap Ara.

“Program prioritas di Kota Medan tergambar dari RPJMD yang ada masih berfokus pada masalah banjir, kemacetan, dan kemiskinan. Bisa juga dari ketimpangan dana Dinas Kebudayaan dibandingkan dengan Dinas Pekerjaan Umum. Padahal Medan menghasilkan banyak seniman di masa dulu, ada taman Lili Suheri dan Djaga Depari, yang semuanya seniman,” sambung Ara.

Berikut surat lamaran kerja ‘anak Medan’ yang viral tersebut:

Dengan hormat,

Kutengok semalam di internet, kubaca udah bukak pulak lamaran di kantor Bapak. Jadi kutulis surat ini. Mana tau bisa diterima aku. Diterima sukur, gak diterima gak papa lah.

Seriusnya aku Pak, gak maen-maen aku. Kalau gak percaya Bapak la nanti disuruh apapun maunya aku.

Gini aja la, biar yakin Bapak. Kutarok aja la di surat ini ijazah aku, SKCK ku, surat sehat badan aku, sama surat masih warasnya aku Pak.

Udah la ya Pak. Kepengen kali aku diterima Pak. Tak pande aku bikin surat panjang-panjang. Makasi la Pak.

Hormat aku,
(tanda tangan dan meterai Rp 6.000)

sumber : https://news.detik.com/berita/d-5163858/surat-lamaran-kerja-anak-medan-viral-begini-analisis-gaya-bahasanya?single=1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *