Anak Penjual Es Dung-Dung Diterima Kuliah Gratis di UGM

Rio Hermawan (17) tak bisa menyembunyikan rasa senangnya ketika mengetahui ia diterima kuliah di Departemen Teknik Geologi UGM. Kecintaannya pada ilmu kebumian dan impiannya suatu saat nanti bekerja di perusahaan migas setidaknya terbuka lebar. Ia tak henti-hentinya bersyukur. “Senang pastinya karena UGM itu kampus impian banyak siswa,” kata anak ke 2 dari 3 bersaudara dari pasangan Encep Cepi dan Masikah yang menetap di Abepura, Papua ini, Selasa (11/8).

Meski menetap di Papua, keluarga ini berasal dari Jawa. Encep sendiri berasal dari Bandung, Jawa Barat. Sementara sang istrinya berasal dari Demak, Jawa Tengah. Keluarga ini merantau ke Papua tahun 2005, setelah sekian puluh tahun sebelumnya jadi penjual sayur di Pasar Induk Kramat Jati Jakarta.

Di Abepura, Encep (47) berjualan es puter atau lebih dikenal dengan nama es dung-dung. Setiap harinya, Encep jalan kaki puluhan kilometer mendorong gerobaknya,menyusuri gang-gang di sekitar pinggiran kota Abepura. Dari berjualan es puter, Encep bisa membawa uang pulang sekitar Rp200-300 ribu. Namun, bila dipotong dari modal, Encep mendapat penghasilan bersih sekitar sekitar Rp120.000-150.000. “Itu pun jika hari tidak hujan, kalau hujan saya tidak jualan,” katanya.

Encep berjualan dari jam 10 pagi dan pulang ke rumah sekitar pukul 16.00 sore. Encep mengaku sengaja jualan dengan berjalan kaki, sebab jika menggunakan motor maka akan sulit mendapat pembeli. Untuk satu es dung-dung dijual dengan harga Rp.2.000 rupiah.

Meski mengaku dengan berjualan es dung-dung bisa menghidupi keluarga besarnya. Namun, saat mendengar anak kedua diterima kuliah di UGM dengan jalur beasiswa bidikmisi (sekarang KIP). Encep merasa senang karena ia tidak harus banyak mengeluarkan biaya kuliah karena terbantu dengan uang beasiswa. “Buat saya pribadi sangat senang dan bangga, apa yang diinginkannya tercapai sudah,”kata Encep dengan logat Papua.

Rio sendiri diketahui lulus dari SMAN 4 Jayapura. Selama di bangku sekolah sering masuk peringkat 10 besar di kelas. Kecintaannya pada ilmu bumi mengantarkan Rio mengikuti berbagai perlombaan. Salah satunya ia pernah mendapat juara dua olimpiade sains nasional tingkat kabupaten. “Sempat lolos tingkat provinsi tapi tidak lolos ke nasional,”katanya.

Rio mengaku suka membaca buku. Namun begitu, ia memilih meminjamkan buku dari kakak kelas yang sudah tidak terpakai lagi. Untuk jam belajar, Rio mengaku memiliih setelah waktu setengah jam pada malam hari dan dlanjutkan setengah jam lagi sebelum berangkat ke sekolah. “Pokoknya cukup 30 menit saja,” katanya.

Diterima kuliah di kampus UGM, Rio mengaku akan belajar sebaik-baiknya agar tidak mengecewakan kedua orang tuanya. Apalagi ia sudah diajarkan mandiri sejak kecil. Bahkan, setiap hari ia terbiasa membantu ibunya membuat bahan es dung-dung.

“Dari kecil sudah diajari untuk mandiri,”katanya.

Sumber : https://ugm.ac.id/id/berita/19865-anak-penjual-es-dung-dung-diterima-kuliah-gratis-di-ugm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *