Padang Sidimpuan Kota Pelajar Dan Wartawan Masa Kolonial Hingga Kini

PADANG Sidimpuan pada masa Kolonial Belanda suasana masih hening.

JAUH sebelum Indonesia merdeka 17 Agustus 1945 yang diproklamirkan Presiden dan Wakil Presiden Ir Soekarno-M Hatta, nama Kota Padang Sidimpuan sudah tercatat di Leiden Belanda.

KOTA Padang Sidimpuan saat ini sebagai tujuan wisata belanja di wilayah Tapanuli.
KOTA Padang Sidimpuan saat ini sebagai tujuan wisata belanja di wilayah Tapanuli.

Informasi sejarah dihimpun Waspada, tidak lama setelah usai perang paderi dalam fase perang dingin sekitar 1850-an jalur ekonomi Panyabungan Natal dibuka.

Arus perdagangan dari Mandailing ke Pelabuhan Natal berkembang pesat.

Di Huta Tanobato tahun 1862 didirikan sekolah guru (Kweekschool) yang dikelola Willem Iskandar.

Muridnya selain penduduk Mandailing/Natal juga berasal dari semua penjuru utamanya Angkola/Sipirok dan Padang Bolak/Padang Lawas.

Alumni sekolah ini menjadi agen perubahan khususnya di Padang Sidimpuan yang menjadi pemimpin lokal, guru dan bahkan pengarang.

Sebagian mereka (alumni) inilah yang menjadi guru pendidikan ‘ala barat’ di sekolah rakyat di Padang Sidimpuan.

Pada tahun 1874 Kweekschool Tanobato ditutup, alasan utamanya karena akan dibangun sekolah guru yang lebih baik di Padang Sidimpuan yang juga menjadi pusat studi dari kebudayaan daerah.

yang juga menjadi pusat studi dari kebudayaan daerah.

Kweekschool Padang Sidimpuan ini akhirnya direalisasikan pada tahun 1874.

Sekolah guru ini mewisuda muridnya yang pertama tahun 1884.

Kweekschool Padang Sidimpuan ini kemudian ditingkatkan mutu bangunannya yang dikemudian hari menjadi bagian dari gedung SMA Negeri 1 Padang Sidimpuan sekarang.

Salah satu guru yang terkenal di Kweekschool Padang Sidimpuan adalah Charles Adriaan van Ophuysen (1882-1890).

Guru Belanda ini menjadi direktur sekolah guru Kweekschool Padang Sidimpuan (1885-1890).

van Ophuysen ini kelak menjadi ahli Bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia.

Seorang alumni Kweekschool Padang Sidimpuan, Rajiun Harahap gelar Sutan Casayangan Soripada, yang lahir di Batunadua pada tahun 1874, kemudian menjadi asisten van Ophuysen dalam mata kuliah Bahasa Melayu di Universiteit Leiden.

Rajiun Harahap gelar Sutan Casayangan Soripada (baca Kasayangan), adalah penggagas Indische Vereeniging tanggal 25 Oktober 1908 di Leiden.

Organisasi ini menjadi cikal bakal Perhimpoenan Indonesia di Eropa.

Kweekschool Padang Sidimpuan

Kweekschool Padang Sidimpuan berkembang pesat dan menghasilkan alumni yang banyak, sebagian sebagai guru dan sebagian yang lain menjadi pengarang, wartawan, pemimpin dan karyawan perusahaan perkebunan, pegawai pemerintahan Belanda.

Pada masa ini Padang Sidimpuan adalah sebuah kota kecil yang cepat berubah dan tumbuh menjadi pusat perdagangan yang strategis karena kota kecil ini menjadi simpul ekonomi di daerah Tapanuli Bagian Selatan untuk dua pelabuhan di Natal dan Sibolga.

Guru tamatan Kweekschool Padang Sidimpuan mulai membangun sekolah rakyat buat penduduk kota.

Kebutuhan sekolah atau ruang kelas yang lebih banyak karena Padang Sidimpuan sudah mulai menjadi tujuan migrasi sehingga proses urbanisasi juga semakin terasa.

Sementara itu, bagi penduduk Padang Sidimpuan yang sudah lama ‘terpelajar’ karena pendidikan mulai marak untuk melakukan migrasi ke Deli (Medan) untuk menjadi pegawai perkebunan.

Sekolah rakyat ini dikemudian hari menjadi sekolah desa (yang kemudian sekolah dasar negeri) di tahun 1907 di berbagai titik di dalam kota.

Pada tahun 1920 Belanda mendirikan HIS (Hollanddsch Inlandscha School) sekolah ala Belanda di Padang Sidimpuan yang diperuntukkan bagi anak ambtenaar, pegawai, serdadu KNIL, anak raja dan anak pedagang dengan dikutip biaya sekolah yang cukup tinggi.

Lokasi sekolah elit ini berada di jalan Ahmad Dahlan (jalan Tonga/jalan antara Merdeka dengan Sudirman) dan tahun 1970-an gedung ini menjadi perpustakaan Willem Iskandar (perpustakaan Pemda Tapanuli Selatan).

Bahasa pengantar dalam sekolah ini adalah Bahasa Belanda.

Sekalipun demikian, gurunya adalah orang Indonesia dengan kepala sekolah seorang Belanda.

Sementara penduduk Padang Sidimpuan yang sudah lama melek huruf, pada tahun 1914 tidak lama setelah Rajiun Harahap gelar Sutan Casayangan Soripada kembali dari negeri Belanda, beliau menerbitkan sebuah surat kabar berbahasa Batak di Padang Sidimpuan dengan nama ‘Poestaha’.

Kehadiran surat kabar ini mendapat respon dari masyarakat luas bahkan dari semua lapisan.

Kini Kota Modern

Topografi Kota Padang Sidimpuan sebagai jalur lintas barat di Provinsi Sumatera Utara dapat juga dikategorikan kota jasa dan perdaganan.

Posisi tengah kota ini, sebagai tujuan wisata belanja dari Kabupaten tetangganya, yaitu Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Mandailing, Tapanuli Selatan, Padang Lawas dan Labuhan Batu.

“Mulai dari Opung kita, kota Padang Sidimpuan ini sudah tujuan pedagang di wilayah Tapanuli, termasuk dari saudagar kopi Sipirok,” ujar H Aswin Harahap, 75, kepada Waspada di kediamannya, Minggu (5/7) Sitamiang. Ahmad Cerem Meha

sumber : https://waspada.id/features/padang-sidimpuan-kota-pelajar-dan-wartawan-masa-kolonial-hingga-kini/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *