Jeruk Keprok Warisan Kejayaan Situmba yang Redup

DESA Situmba Kecamatan Sipirok merupakan pusat produksi jeruk keprok terbesar di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel). Sejarah kejayaan jeruk keprok masih bisa ditemukan di desa ini. Tanaman jeruk keprok yang usianya mencapai ratusan tahun masih berdiri kokoh kendati produksinya sudah tidak memuaskan lagi.

Di desa yang berada tidak jauh dari lereng tor Simago-mago ini diperkirakan masih ada berkisar 400 batang jeruk keprok yang masih mau produksi walaupun usia batangnya sudah tua.

Ahmad Sarpin Harahap (48), seorang pemilik kebun jeruk keprok dan kini dipercayakan masyarakat sebagai ketua Kelompok Tani (Poktan) Mekar Sari Jaya.
Dalam pertemuannya dengan MedanBisnis, Selasa (8/3) Ahmad Sarpin bertekad  untuk tetap mempertahankan tanaman jeruk, bargot dan kopi. Alasannya, ketiga komoditas tersebut merupakan tanaman warisan turun temurun dari nenek moyang mereka.

Iklim di daerah ini yang cukup dingin dan anginnya yang kuat membuat tanaman tiga jenis ini sangat tepat untuk dikembangkan. Sarpin mengakui bahwa tanaman jeruk selama ini mulai dilupakan masyarakat. Masyarakat sibuk mengurus hal-hal lain. Padahal kalau mereka kembali mengenang kejayaan jeruk keprok 10 tahun lalu, cukup memberikan kemakmuran bagi generasi sebelum mereka.

“Sebagai bukti  (almarhum) tulang (paman-red) saya sampai-sampai disebut “Haji Unte” (haji jeruk). Karena apa.? Karena dia sukses sebagai petani jeruk keprok. Dia bisa beli tanah di sejumlah daerah, bisa bangun rumah dan menyekolahkan anak-anaknya. Semuanya dari produksi jeruk,”ujar Sarpin.

Alasan itulah lantas menginspirasi Sarpin bersama istrinya Patimah Siregar (48) untuk bergiat mengelola lahan jeruk keprok seluas satu hektare yang diwariskan orangtuanya pada keluarganya.

Lumayan dari hasil produksi jeruk keprok ini kamu sudah dapat membawa  anak-anaknya menjadi orang yang berpendidikan dan berhasil menyandang gelar sarjana. Dua anak kami telah berhasil meraih gelar SPd dan dan seorang lagi sedang mengikuti pendidikan di salah satu Universitas di Medan dengan mengambil jurusan keguruan untuk guru olah raga,” aku Sarpin.

Memang diakui hasil produksi jeruk keprok di lahan satu hektare yang dimilikinya sudah jauh menurun. “Kalau dulu dalam satu batang bisa berproduksi 200 sampai 300 kilogram. Sekarang hanya bisa berkisar 50 kilogram saja. Itu karena faktor usia dan kurangnya pemupukan dilakukan,”kata Sarpin.

Namun kini Sarpin bersama anggota kelompok tani lainnya mulai mengembangkan jeruk keprok  di atas luas lahan sekitar 10 hektare. Mereka tanam di areal lahan masing-masing. Sarpin yakin kejayaan jeruk keprok bisa kembali khususnya di si Tumba  Kecamatan Sipirok.

Bibit yang diperoleh mereka dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan melalui Dinas Pertanian. “Sekarang sudah ditanam di sepanjang areal lahan kosong dan di sela-sela pohon jeruk keprok yang usiannya sudah tua,” jelasnya.

Dikatakan Sarpin, dulunya kawasan ini merupakan kawasan wisata. Karena itu, Sarpin mencoba membuka pintu di areal kebun jeruknya sebagai kawasan wisata yang diberinya nama “Sambal Dangdut, Lokasi Kebun Jeruk”.

Dengan cara itu akan memunculkan daya tarik warga luar yang melintas untuk berhenti dan berbelanja jeruk di tempatnya sekaligus dapat menikmati sambal taruma khas Sipirok yang disebutnya sebagai “sambal dangdut”.

Dengan cara yang mereka buat ternyata mampu merangsang pengunjung yang berdampak pada meningkatnya ekonomi masyarakat sekitar.

Sayangnya saat MedanBisnis berkunjung kebun jeruk keprok milik Sarpin dan petani lainnya, tanaman jeruk tersebut belum berbuah. Karena masa panennya hanya terjadi dua kali dalam setahun. Dan, tahun ini belum ada yang panen sehingga pedagang buah jeruk belum ada terlihat di pinggir-pinggir jalan lintas Sipirok.

Kopi ateng juga salah satu pengaruh kurang fokusnya masyarakat menekuni tanaman jeruk keprok. Karena kopi ateng masa panennya lebih cepat dan harganya juga lumayan atau berada dikisaran Rp 25 ribu per kg.  Sementara tanaman bargot masih peremajaan sehingga belum bisa menghasilkan nira dan membuat gula merah.

Diakui bahwa merawat tanaman jeruk keprok cukup rumit. Sehingga ini juga menjadikan sebagian masyarakat mulai jenuh menanam jeruk. Namun bagi Sarpin ini merupakan tantangan.. Saat ini bibit yang sudah ditanam tersebut sudah berumur kurang lebih dua tahun.

Di samping faktor cuaca, pemupukan dan membasmi hama merupakan masalah yang dihadapi petani jeruk di daerah ini. “Kita berharap pemerintah juga dapat membantu petani dalam hal pemupukan dan perawatan seperti obat-obatan hama,”katanya.
Hama lalat buah dan jamur pucuk daun muda, merupakan masalah petani jeruk  karena dengan serangan hama tersebut produksi jeruk tidak baik bahkan tanaman jeruk bisa mati akibat serangan hama.

“Untuk membasmi hama hanya dilakukan dengan pengasapan. Kalau dulu angin juga dapat membuat hama hilang.

Namun saat ini angin sudah mulai berkurang hembusannya di Sipirok, bahkan iklimnya yang dulu dingin juga saat ini jauh berkurang,”kata Sarpin.
Tekad Sarpin sudah bulat, walau iklimnya dikatakan sudah kurang bagus saat ini untuk berbudidaya jeruk keprok, dia tetap akan berkebun jeruk keprok hingga khir hayatnya. Tekadnya sudah bulat untuk mengajak warga tetap menjaga kearifan lokal sebagai warisan petani jeruk yang tidak pupus dimakan zaman.

“Saya berjanji untuk tetap membudidayakan jeruk ini kalau toh tidak bisa juga saya menyerah dan akan menjadikan lahan ini sebagai kaplingan,”tekadnya. (ikhwan nasution)

sumber : https://medanbisnisdaily.com/news/read/2016/03/14/221867/jeruk-keprok-warisan-kejayaan-situmba-yang-redup/#.Xv_nk8ELgLI.whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *