Nelayan Berharap Petugas Tangkap Kapal Pukat Harimau

BELAWAN (Berita): Pasca ditangkapnya dua kapal nelayan asing oleh Ditpolairud Poldasu karena  mencuri ikan (illegal fishing) di Selat Malaka, sejumlah nelayan  Belawan sangat apresiasi terhadap aparat penegak hukum di laut.

Para nelayan berharap, penangkapan kapal-kapal pukat harimau (pukat trawl) tersebut seharusnya tidak hanya dilakukan terhadap kapal-kapan nelayan asing namu  kapal-kapal pukat trawl asal Pelabuham Perikanan Samudera Belawan (PPSB) Belawan juga harus ditangkapin karena keberadaan kapal-kapal pukat trawl mayoritas milik pengusaha non pribumi tersebut menyebabkan nelayan tradisional menderita berkepanjangan.

Selain merugikan para nelayan, aktivitas kapal-kapal pukat trawl tersebut merusak biota dan ekosistem laut.

“Seharusnya aparat Badan Keamanan Laut (Bakamla) tidak hanya menangkap kapal-kapal nelayan asing saja karena ratusan kapal pukat trawl yang diduga memanipulasi surat izin setiap harinya juga menangkap ikan secara ilegal namun hingga saat ini tidak satu pun kapal ikan mengunakan alat tangkap trawl asal Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (PPSB) yang diamankan atau ditangkap,” ujar Wan Syahrial ,50, salah seorang nelayan di pesisir Belawan kepada Berita, Rabu (27/5).

Wan menyebutkan, banyaknya kapal-kapal pukat trawl yang menggunakan alat tangkap yang dilarang oleh pemerintah itu membuat aktivitas penangkapan ikan semakin marak tanpa memperhatikan nasib nelayan tradisional dan nelayan berskala kecil.

“Pada hal,  kapal Trawl asal Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan sangat berbahaya,selain memiliki bobot yang besar dan jumlahnya mencapai ratusan unit. Kita menduga ada unsur pembiaran dari aparat penegak hukum terhadap kapal Trawl asal Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (PPSB) sehingga para pengusaha perikanan berlomba-lomba membuat kapal Trawl,” sebut Wan.

Syamsul ,46, nelayan kecil lainnya berharap kepada aparat penegak hukum di laut untuk dapat menertibkan kapal-kapal ikan yang mengunakan alat tangkap yang di larang.” Kalau mau menegakan Undang- Undang Perikanan,maka jangan kapal ikan asing saja yang di tangkap,tangkap juga kapal ikan yang mengunakan alat tangkap Trawl asal Pelabuhan Perikanan Belawan,” sesal Syamsul saat ditemui di tangkahan nelayan Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan.

Sementara itu, Ketua Aliansi Nelayan Kecil Modern-Indonesia (ANKM-I) Rahman Gafiqi SH mengapresiasi kinerja Ditpolair Poldasu.

“Apa yang dilakukan Ditpolair terhadap kapal-kapal nelayan asing yang mencuri ikan sangat kami apresiasi namun tindakan yang sama juga harus dilakukan terhadap kapal-kapal pukat trawl yang setiap hari menangkap ikan di perairan Selat Malaka,” tegas Rahman.

Ibarat pepatah Semut di seberang pulau nampak dan Gajah di pelupuk mata tak kelihatan, aktivis nelayan ini menilai aparat penegak hukum di laut seolah-olah tak mengetahui adanya aktivitas kapal-kapal pukat trawl, apalagi kapal-kapal pukat trawl berasal dari PPSB Belawan.

Rahman mengharapkan  kepada Ditpolair dan PSDKP Gabion Belawan untuk melakukan tindakan tegas terhadap  kapal-kapal pukat trawl, bauke Ami, pukat teri dan Lingkung yang menghancurkan biota dan eksosistem laut Selat Malaka sehingga merugikan kaum nelayan kecil khususnya dimana kapal 30 GT ke atas tersebut  yang rata-rata  memanipulasi perizinan  Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI), Surat izin Usaha Perikanan (SIUP), Surat Laik Operasi (SLO) dan  Surat Persetujuan Berlayar (SPB).

“Hukum harus ditegakkan. Kapal-kapal pukat trawl harus diberantas karena keberadaannya menyengsarakan nelayan tradisional dan merusak eksosistem laut. Bakamla harus berpihak kepada rakyat dan nelayan tradisional sekaligus memperhatikan kondisi kehidupan nelayan tradisional yang semakin sengsara akibat dari aktivitas kepal-kapal pukat harimau tersebut,” terang Rahman.

Ditambahkan Rahman, selama pandemi virus corona (covid-19), pengusaha kapal-kapal pukat trawl semakin merajalela di saat aparat Polri dan TNI sibuk mengamankan imbauan pemerintah agar tidak terjadinya kerumunan massa.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Dua unit kapal nelayan asing yang mencuri ikan di perairan Indonesia berhasil diamankan oleh personil Ditpolairud Polda Sumut.

2 kapal ikan berbendera Malaysia ini masuk ke ZEE Indonesia di Perairan Selat Malaka ini ditangkap oleh Kapal Patroli (KP) Antareja – 7007, Jumat (22/5) sekira pukul 04.00.

2 Kapal masing-masing bernama PKFP 898 yang dinahkodai oleh Tuntun ,30, berkewarganegaraan Myanmar dan PKFP 1774 dinahkodai oleh Thein Pa ,55,  berkewarganegaraan Thailand.

Dirpolairud Polda Sumut Kombes Pol Roy Sihombing mengatakan penangkapan 2 kapal nelayan asing berbendera Malaysia ini bahwa penangkapan bermula saat KP. Antareja -7007 melakukan patroli di Perairan ZEE Indonesia tepatnya di Selat Malaka Sumatera Utara mendeteksi ada 2 Kapal Asing melakukan tindak pidana Ilegal Fishing, kemudian Ship Thundrer KP. Antareja – 7007 dikerahkan untuk mendekati 2 kapal tersebut.

“Ship Thunder KP. Antareja – 7007 langsung dikerahkan dan berhasil mengamankan kapal pertama (kapal FKFB 898) di posisi 04 32′ 140″ U – 99 20′ 472 T,” ujar Kombes Roy Sihombing didampingi Kasubdit Gakkum AKBP Jenda Sitepu dan Komandan Kapal Antareja 7007, Ditpolair Korpolairusld Baharkam Polri Kompol Yefri Dickson Ndolu S. Sos, M.Si, Minggu (24/5).

Kombes Roy Sihombing menambahkan, selanjutnya Ship Thunder KP. Antareja – 7007 mengamankan kapal kedua yaitu kapal FKFB 1774 di posisi posisi 04 33′ 644″ U – 99 21′ 638″ T.

“Dari kedua kapal itu berhasil diamankan 1,7 ton ikan hasil ilegal fishing, dokumen kapal, perlengkapan navigasi dan tersangka yang merupakan warga negara asing”, terang Kombes Roy Sihombing.

Penyidik Gakkum Ditpolairud Polda Sumut langsung melakukan gelar perkara bersama PSDKP Sumut untuk melengkapi berkas penyidikan.

Kemudian menyerahkan hasil tangkapan untuk penyidikan lebih lanjut ke PSDKP Stasiun Belawan sesuai dengan UU No 45 tahun 2009 tentang perikanan sebagaimana kewenangan yang dimiliki oleh PSDK.

Atas perbuatannya itu,mereka dijerat dengan pasal 92 Jo pasal 93 ayat (2),Jo pasal 85 UU RI No.45 tahun 2009 tentang perubahan atas UU RI No 31 tahun 2004 tentang Perikanan.

sumber : https://beritasore.co.id/berita-utama/nelayan-berharap-petugas-tangkap-kapal-pukat-harimau/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *